undangan pernikahan | antara lokasi, dress code, dan kado pernikahan

July 13, 2011 § 4 Comments

undangan pernikahan

“apakah kamu mau nikah?”
Tidak perlu pakai polling, yang belum nikah dan jeli dengan pertanyaan tersebut pasti akan menjawab dengan: “MAU dung” (masa nikah tidak mau).  Namun bagi yang tidak jeli, pertanyaan diatas akan dijawab dengan jawaban: belum tahu ya, atau tidak dalam tahun ini pastinya, atau jodoh saja belum ada masa mau nikah (hammer). Itulah kenyataan yang papafaiz temukan  selama ini. Terlepas dari pertanyaan diatas, kemarin papafaiz mendapatkan undangan pernikahan dari seorang teman kantor pada tanggal 23 Juli 2011 di Depok. Inilah permasalahan yang papafaiz alami jika mendapatkan undangan pernikahan dari teman kantor, karena acaranya ada di Depok sedangkan posisi papafaiz ada di Kendari. Beda pulau, beda waktu dan tentu saja beda transportnya (perbandingan jika posisi papafaiz ada di jakarta). Lebih dari itu, untuk memberikan kado pernikahan yang senilai Rp.100.000,00-Rp.300.000,00, menjadi tidak “matching” jika harus melihat beaya transport PP kendari-jakarta dengan pesawat terbang. Duh gusti..

Berbicara tentang undangan pernikahan tidak bisa lepas dari tiga hal berikut, yaitu  lokasi, dress code, dan kado pernikahan. Kenapa hanya tiga hal saja? Karena tiga hal inilah yang sering “berkunjung” di pikiran papafaiz ketika mendapatkan undangan pernikahan.

Pertama, lokasi. Diatas sudah ada gambaran sekilas tentang permasalahan lokasi tersebut. Hal ini menjadi pertimbangan yang utama dalam benak papafaiz karena menjadi prioritas antara ketersediaan waktu (terkait jadwal), hubungan keluarga dan ketersediaan tabungan. Semakin jauh lokasi (membutuhkan biaya transport dan waktu yang tidak sebentar) dan tidak terkait ada hubungan keluarga, menjadi prioritas utama untuk “hanya” titip doa keberkahan dan titip amplop.😀

Kedua, dress code.  Tidak akan masalah jika memang dalam undangan tidak tertulis secara khusus dress code nya apa. Namun, tentunya tidak sesuai jika untuk menghadiri acara resepsi pernikahan yang acaranya diadakan di gedung atau hotel hanya mengenakan pakaian yang seadanya. Misal, hanya pakai bikini, underwear, atau baju tidur. Lebih-lebih jika melihat kultur kita sebagai orang timur yang menjunjung tinggi kesopanan, pakaian-pakaian yang papafaiz contohkan tadi menjadi sesuatu yang sangat diharamkan bagi sebagian besar warga Indonesia. Tetapi, bisa jadi hal tersebut bisa dilakukan juga, dengan undangan yang sangat terbatas dan atau dilakukan diluar negeri sono. Bagi mantan mahasiswa –  seperti papafaiz ini – yang mendapatkan pengalaman mengikuti acara resepsi pernikahan, dress code minimal tentu saja adalah  kemeja batik. Yup, hanya dengan dress code kemeja batik dan amplop (kosong), seorang mahasiswa yang mempunyai kekuatan aji (aji mumpung tanggal tua dan kiriman orang tua belum datang) dan kekuatan rai gedhek (muka tembok) dapat dengan mudah ikut acara resepsi. (^^)v

(disclaimer: papafaiz tidak menyarankan untuk melakukan kegiatan ini. Jika ada yang melakukan, resiko ditanggung penumpang).

Ketiga, kado pernikahan. Untuk yang satu ini, sampai sekarang di otak papafaiz hanya ada tiga pilihan, yaitu antara amplop, kado atau doa. Kenapa amplop? Karena inilah sarana untuk menyumbang yang paling mudah kepada yang mengundang kita. Kenapa mudah? Selain karena kita tidak sulit-sulit memeras otak untuk mencari kado pernikahan yang pas untuk pasangan pengantin tersebut, kadang-kadang diundangan juga ada hidden message berupa larangan halus untuk memberikan kado pernikahan dalam bentuk barang.  Karena mudahnya itulah terkadang bahkan sering terjadi, jika ada acara undangan seperti ini, papafaiz dan bunda faiz saling tanya dan mengingatkan, amplopnya sudah ada belum ya…?? (hammer). Sedangkan untuk kado, sampai detik ini papafaiz belum pernah memberikan kado pernikahan dalam bentuk barang. Satu kata, ribet. Yang terakhir, doa. Ini dia kado pernikahan yang (mungkin) paling sering papafaiz berikan kepada teman-teman yang mengundang papafaiz via facebook atau email. Hal ini biasa dilakukan oleh teman-teman waktu sekolah atau kuliah dulu, sehingga tidak memungkinkan untuk menyerahkan undangan pernikahannya secara langsung.

Lebih daripada itu doa inilah kado pernikahan yang sangat utama, simple dan mudah dilakukan oleh siapa saja. Karena kekuatan doa inilah yang menjadi harapan dalam mengarungi bahtera rumah tangga bagi pasangan pengantin baru.

terucap kepada teman papafaiz..

“barokallohu laka wa baroka’alaika wa jama’a baina ku maa fi khoir…”

ps: maaf, cuma bisa lewat doa dan amplop saja ya.. v(^.^)v

“Artikel ini saya tulis sebagai  Wedding Anniversary Gift  bagi para sahabat yang mensyukuri hari ulang tahun pernikahannya pada bulan Juli 2011″

Tagged:

§ 4 Responses to undangan pernikahan | antara lokasi, dress code, dan kado pernikahan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

What’s this?

You are currently reading undangan pernikahan | antara lokasi, dress code, dan kado pernikahan at papafaiz.

meta

%d bloggers like this: